Kata Gus Baha Ghibah Itu Haram Tapi Masih Diperlukan, Ini Alasannya
Membicarakan atau menggunjing orang lain disebut dengan ghibah. Gus Baha sebut bahwa ghibah itu perilaku yang haram.
Meski ghibah termasuk perilaku yang haram kata Gus Baha, namun ia juga mengatakan bahwa perilaku itu masih diperlukan.
Lantas, mengapa Gus Bah menyebutkan bahwa ghibah masih diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat?
Secara lengkap Gus Baha menjelaskan terkait ghibah dan alasannya masih diperlukan di masyarakat.
Ghibah itu hukumnya haram. Tapi Allah sampai hari kiamat akan selalu menciptakan orang ghibah itu banyak,” ungkap Gus Baha yang dilansir dari YouTube SANTRI OFFICIAL pada 15 November 2021.
Ia menyebutkan bahwa masih akan ada orang yang suka melakukan ghibah karena memang diperlukan.
“Sebab jika tidak ada orang yang menggunjing (ghibah), maka orang maksiat itu enak, tidak ada pengadilan sosial. Tapi kalau ada yang menggunjing kan ini jadi kontrol,” imbuhnya.
Gus Baha menyebutkan bahwa ghibah merupakan pengadilan sosial dan memberikan contoh yang terjadi di masyarakat.
“Misalnya ada orang hamil di luar nikah ‘wah ini produk gagal’ kenapa buru-buru menikah ni sudah kena. Akhirnya satu keluarga malu, sehingga mereka yang belum kena berkomitmen agar tidak kena, agar tidak malu di depan masyarakat Ini berkah sekali pengadilan semacam ini,” jelasnya.
Lantas, ia berpesan kepada para kiai, imam masjid dan tokoh masyarakat lainnya untuk pura-pura tidak serius menanggapinya.
“Bagi kiai yang imam masjid terkenal khusu’, tokoh masyarakat apalagi bergelar tokoh rujukan maka harus berupaya menjaga lisan, pura-pura saja tidak perlu serius.
“Kamu harus tetap membiarkan mulut-mulut jelek itu berkeliaran, karena itu pengontrol tapi karena kamu kiai, bersorban, kalau sholat Jumat pakai parfum kan ya tidak pantas bermulut jelek. Pura-pura khusyu’ dan tenang, tapi kamu harus mendukung gerakan mulut jelek itu. Ini trik dari kiai alim,” imbuh Gus Baha.
Gus Baha memberikan contoh, misalnya ada orang mati karena oplosan, terbilang jelek karena mati sebab oplosan.
“Ada orang mati karena oplosan kadang-kadang ibunya salehah, kakeknya saleh, aktivis majelis ta’lim tapi cucunya kurang ajar minum oplosan lalu mati, mati sungguhan.
“Walhasil ramai jadinya karena ya mati sebab oplosan. Saksinya juga banyak, komunitas grupnya juga ada, ada yang setengah mati ada yang benar-benar mati,” terangnya.
Lantas ia melanjutkan terkait bagaimana cara menangani masalah tersebut.
“Kemudian ada yang bertanya ke saya ‘gus kampung saya mengalami seperti itu dan saya kiai di situ sebaiknya saya mensholati apa tidak?’ Saya tanya ‘kamu termasuk kiai top atau tidak di situ.’ Dia jawab ‘paling top, kata orang-orang saya ini kiai induknya’ begini saja, suruh orang-orang biasa untuk mensholati, 5 atau 6 sebagai syarat kamu pura-pura tidak sholat karena kamu kiai top,” ucapnya.
Lantas, Gus Baha pun memberikan logika terkait permasalah tersebut dan menekan untuk tidak salah dan memilih menyampaikannya di depan para kiai.
“Logikanya begini dengarkan baik-baik, awas kalau salah neraka. Jenazah muslim... ini saya bicara di depan para kiai, ini penting untuk saya haturkan bukan karena saya sombong. Ciri khas kebenaran fikih adalah diomongkan di depan orang banyak kemudian dikontrol ahlu ilmi.
“Kalau ahlul ilmi nanti benar, maka ini akan jadi hukum konsensus kalau tidak benar agar dibatalkan oleh para kiai, bahwa Gus Baha kemarin sesat menyesatkan. Makanya statmen orang alim harus di depan orang alim jug. Jangan hanya disampaikan di depan santrinya saja karena kalau salah tidak ada yang berani,” lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa orang yang meninggal seperti itu harus tetap disholati dan prosesnya tetap berdasarkan islam.
“Begini logikanya, ini berulang kali saya sampaikan. Komunitas orang fasik atau pemabuk kalau tidak kita datangi. Kita di sini maksudnya orang saleh atau sedang saleh, pokoknya orang baik. mereka nanti dikhawatirkan punya kaifiah (tata cara) baru,” pungkasnya.
“Jika temannya mabuk lalu mati kemudian dicarikan whiski, ‘kamu dulu hanya mampu beli spirtus sekarang kenangan, kamu saya beri whiski’ atau ketika mati hanya digelindingkan saja,” tuturnya.
Ia mengatakan dengan orang-orang saleh tetap datang, setidaknya tata cara islami tetap terjaga, ya dimandikan, ya dikafani, ya disholatkan karena biar bagaimanapun itu adalah jenazahnya orang islam.
Meski kamu kecewa terhadap (perilaku) si mayit tapi kita itu khawatir dan tradisi tandingan yaitu kalau kita tidak datang kemudian dikelola ala orang fasik, dimandikan dengan arak, digelindingkan lalu malamnya main kartu, repot,” kata Gus Baha.
Lantas, ia mengatakan bahwa anggap saja tahlilan dilakukan untuk penolak main kartu.
“Menurut saya biarlah tahlilan dikatakan bid’ah atau dikomplain, anggap saja penolak main kartu. Biarlah kamu komplain itu tidak sesuai sunnah Rasulullah. Kamu jangan meyakini jika tahlil itu ada tuntunannya, tidak ada dalam hadist sahih. Biasa saja yang penting dilakukan,” tutupnya.***