Ditunggu di Makam Wali Besar, Karomah Mbah Moen Disaksikan Supir Taksi Mesir
KH Maimoen Zubair Sarang Rembang adalah salah satu ulama besar Indonesia yang dimakamkan di Ma'la Makkah.
Syekh Nawawi Banten lebih dulu dimakamkan di Ma'la. Ulama Indonesia memiliki keistimewaan di mata orang Makkah.
Mbah Moen, sapaannya, juga disaksikan karomah kewaliannya oleh supir taksi saat berada di Mesir.
Sebelumnya, karomah Mbah Moen disaksikan santrinya dan warga Mesir saat perjalanan ziarah di makam Imam Abu Hasan Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah.
Mbah Moen ternyata juga punya kisah khusus dengan tarekat Naqsyabandiyyah saat di Mesir.
Dikisahkan oleh Ustadz Wahyudi, Mbah Moen pernah mengalami perjalanan spiritual saat mendapatkan ijazah mursyid tarekat.
Dikisahkan, pada tahun 2000, Mbah Maimoen berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan perjalanan ke Makkah dalam rangka melakukan ibadah haji.
Akan tetapi terjadi suatu hal yang menyebabkan beliau tidak bisa melanjutkan perjalanan haji. Akhirnya perjalanan beliau dialihkan ke Mesir.
Di Mesir Mbah Yai Maimoen berkholwat dan bertemu dengan mursyid Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah yakni Syaikh Dliyauddin Al-Kurdi.
Mbah Yai pun dibaiat menjadi mursyid thoriqoh Naqsyabandiyah oleh Syaikh Dliyauddin.
Mengenai hal ini, dinukil dari dawuh Syaikh Dr. Fathi Al-Hijazi:
"Sebenarnya banyak dari para pembesar ulama dan orang-orang yang mulia telah meminta kepada Syaikh Dhiyauddin agar diberi Ijazah sebagai Mursyid Thariqoh Naqsyabandi.
Bahkan di antara para pembesar ulama tersebut, ada para ulama yang selalu dihormati dan dimuliakan.
Akan tetapi Syaikh Dhiyauddin Al-Kurdi tidak memberikan Ijazah ini kepada mereka.
Padahal mereka meminta-minta dengan amat sangat, akan tetapi Syaikh Dhiyauddin Al-Kurdi malah menolak dengan keras.
Kemudian, Syaikh Dhiyauddin tiba-tiba memberikan Ijazah ke-Mursyid-an Thoriqoh Naqsyabandiyah ini kepada Syaikh Maimoen Zubair saat pertama kali bertemu beliau".
Ustdaz Wahyudi mengisahkan selengkapnya begini.
Setelah Syaikh Dliyauddin Al-Kurdi wafat, Syaikhona Maimoen Zubair ingin ziarah ke maqbaroh beliau, akan tetapi tidak tahu dimana pusaranya.
Mbah Yai Maimoen pun menyewa taksi. Setelah Syaikhona Maimoen naik taksi, tiba-tiba di tengah perjalanan mobil itu mogok.
Sopir taksi meminta beliau yang ditemani Abah Abdulloh Ubab, putra sulung Syaikhona Maimoen untuk turun, dan si sopir ngecek kerusakan mobil.
Syaikhona Maimoen pun mencari masjid untuk sholat dan istirahat, ternyata di sekitar masjid itulah Syaikh Dliyauddin Al-Kurdi dimakamkan.
Syaikhona Maimoen kemudian ziarah, lalu kembali ke mobil. Saat beliau datang mobil pun menyala.
“Ya Syaikh, anda memang dipanggil Syaikh Dhiya’, mobil ini tidak ada yang rusak, tiba-tiba di sini di depan masjid mobil berhenti dan setelah anda ziarah mobil itu nyala kembali,” kata si sopir.
Itulah kisah nyata yang terjadi. Supir taksi supir menjadi saksi karomah Mbah Moen yang nyata dilihatnya.
Ustadz Wahyudi menegaskan, kiai merupakan sosok yang mengisi ruhaniyah santri (Murobbi Ruhina). Oleh karena itu, guru atau pun kyai adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Maka santri harus memuliakan sosok kyai.
Syaikh Baha'uddin An-Naqsyabandi usai berguru kepada Sayyid Amir Kulal, beliau diperintahkan untuk kholwat di Baghdad selama tujuh tahun.
Setelah masa itu dilewati, Syaikh Baha'uddin An-Naqsyabandi mampu berjabat tangan dengan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, walaupun rentang keduanya sekitar 150 tahun.
Maka sangatlah tepat bila ia dijuluki Naqsabandi yang berarti diukir di dalam hati.
Selain memuliakan sosok kiai, guru juga perlu dipandang perspektif khususiyahnya. Yakni memandangnya dari sisi kealiman, kewiraian dan sebagainya.
Karena itu banyak kiai yang mempunyai anak kemudian di pondokkan kepada kiai lain.
Seperti halnya putra-putra Syaikhona Maimoen Zubair yang belajar kepada Sayyid Muhammad, Sayyid Abbas, Sayyid Ahmad, Syaikh Muhammad Romadhon Al-Buthy dan lain-lainnya.
