Dahsyatnya Kewalian Guru Tretetet, Sakunya Selalu Keluar Uang Saat Orang Miskin Datang
Ada sosok ulama nyentrik yang gayanya dakwahnya unik. Namanya Tuan Guru Tretetet, Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sosok ulama ini sangat legendaris bagi warga Lombok, karena dakwahnya keliling dari satu tempat ke tempat lain.
Gaya ngajinya juga sama, selalu pindah-pindah. Muridnya tersebar di berbagai pelosok kampung di Lombok.
nama Guru Tretetet adalah Tuan Guru Haji Ahmad. Tapi familier disebut 'Tuan Guru Tretetet', karena konon gemar tertawa dan suara tawanya serupa tretetet itu.
Guru Tretetet dikenal luas seorang waliyullah, kekasih Allah, murobbi Mursyid tanpa murid, Tuan Guru tanpa pesantren.
Tuan Guru Tretetet adalah pejalan kaki, kerap melintasi desa-desa, se-Pulau Lombok. Setiap beliau melewati suatu desa, pekerjaan beliau ada tiga.
Pertama, mendidik masyarakat lewat obrolan santai.
kedua, menyapa anak-anak kecil dan mendoakan mereka.
Ketiga, meminta sedekah pada orang-orang kaya untuk disalurkan pada kaum papa.
Tuan Guru Tretetet dikenal dengan reputasinya membuat rumah-rumah orang kaya terbakar. Orang kaya pelit maksudnya, yakni mereka yang menolak menyerahkan sedekah yang dimintai Tuan Guru Tretetet untuk disalurkan pada kaum papa. Tapi bukan beliau yang membakarnya, rumah mereka terbakar sendiri.
Beliau tidak pernah butuh uang, sudah selesai dengan dunia. Tapi di saku jubahnya seperti selalu ada uang. Bila ada yang datang mengeluhkan hutang, beliau akan merogoh saku dan mengeluarkan uang sejumlah persis yang dibutuhkan orang yang berhutang.
Tapi tidak ada yang bisa mengarang kesusahan di depan beliau, sebab beliau tahu.
"Kutebaraq siq Neneq (saya diberitahu Allah)," katanya.
Saking dekatnya Tuan Guru Tretetet dengan Allah, ada hadits qudsi yang berlaku untuk beliau:
"Barangsiapa yang Ku pilih sebagai kekasih, maka Aku menjadi mata baginya untuk melihat, dan kaki baginya untuk melangkah.... ."
Banyak saksi yang melihat beliau berada di suatu kabupaten dan dalam tempo yang tidak logis berpindah ke kabupaten lain. Bagi beliau, tidak ada yang jauh di bumi Allah, jarak dilipatkan Allah untuknya.
Beliau sangat yaqin Allah maha pemurah, takkan membiarkannya kesusahan. Tentu, itu jenis keyaqinan yang bukan cuma di lidah.
Ketika beliau meninggal, banyak beras diantar ke rumah beliau. Warga terhenyak karena di tiap butir beras terdapat ukiran asma Allah. Bahkan butir beras hormat pada beliau. Sebab, jangankan makan, apapun yang beliau lakukan nama Allah turut serta.
Berdiri, "Allah". Berjalan, "Allah" . Tidak ada yang tidak Allah. Semuanya Allah.
Demikian kisah kemuliaan Guru Tretetet, semoga manfaat.***
