Sholawatan Pakai Alat Musik Apakah Haram? Ini Penjelasan Gus Baha
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha menjelaskan hukum melantunkan bacaan sholawat dengan iringan alat musik dalam agama Islam. Penjelasan ini disampaikan Gus Baha dalam video YouTube Santri Gayeng, diunggah 19 Maret 2022.
Gus Baha bercerita, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah memuji Abu Musa Al-Asy'ari ketika mengaji dengan suaranya yang merdu. Nabi SAW berkata: "Ngajinya Abu Musa Al-Asy'ari itu bagaikan sulingnya Nabi Dawud.
"Makanya kamu jangan terlalu mengharamkan musik. Sebab musik itu memang haram," kata Gus Baha.
Gus Baha lalu menjelaskan istilah alat malahi atau alat-alat orkes seperti seruling dengan segala macam jenisnya. Gus Baha sepakat, bahwa alat musik model seperti itu dihukumi haram. Akan tetapi, jangan lantas menolak dengan keras bahwa hukumnya haram.
"Saya pun sepakat hukum dasar Fikih untuk alat malahi itu haram. Tapi kamu tidak usah teriak-teriak bilang haram," ujar Gus Baha.
Karena di Indonesia, kata Gus Baha, banyak orang yang menggelar organ dengan diiringi lantunan shalawat, namun membuat orang menjadi menangis. Atau bisa jadi, digunakan untuk mengiringi dakwah serta berisi pujian-pujian kepada Allah dan Rasulullah.
"Bagaimanapun, ada orang saleh, dan banyak jumlahnya menggelar organ dengan diiringi shalawat, memuji Nabi, orang pada menangis. Apa kamu bisa mengharamkan alat musik yang dipakai begitu?," tutur Gus Baha.
"Tapi kamu tidak usah bilang halal, wong kelakuanmu begitu. Paham ya?," imbuh Gus Baha.
Akan tetapi, di sisi lain, lanjut Gus Baha menjelaskan, musik juga menjadi hiburan yang apabila tidak digunakan pada tempatnya. Hal ini dikarenakan membuat pendengarnya terlena sehingga lupa dengan bribadah.
"Bagaimanapun, itu disebut 'alat malahi'. Alat yang membuat lupa dari Allah," tutur Gus Baha.
"Tapi sekarang ada fakta, orang-orang saleh tertentu, saking salehnya, pakai alat malahi, orang yang dengar dibuat menangis karena isinya menuji Nabi. Ya sudah kamu tidak usah bilang haram. Wong disebut 'malahi' itu karena membuat lupa dari Allah," jelas Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang itu.
