Wayang Kulit Lambang Ahlussunah Wal Jamaah Tanah Jawa, Ini Penjelasan KH Chalwani Nawawi
KH. Ahmad Chalwani dalam sebuah pengajiannya menyampaikan tentang asal-usul wayang dan maknanya di tanah Jawa.
Dalam sebuah potongan video pengajian Kiai Chalwani menambahkan tentang sejarah wayang.
“Pada maulid Nabi pertama di Demak wali-wali yang tua membawakan doa Sunan Ampel, Sunan Bonang. Sedangkan wali-wali yang muda menjadi panitia,” ungkap Kiai Chalwani
Kiai Chalwani mengatakan bahwa Maulid Nabi pertama di Demak ada keseniannya, Mubalighnya sekaligus dalangnya adalah Sunan Kalijaga
Ia menceritakan Sunan Kalijaga tidak akan mau ndalang kalau belum shalat Isya terlebih dahulu.
“Jadi kalau ada dalang yang tidak pernah sholat jelas dia tidak tahu riwayatnya datang, ini sejarah pak,” tegas Kiai Chalwani
Ada berbagai macam kesenian, puncak kesenian ringgit wacucal atau wayang kulit.
Maka istilah wayang, wayang itu kan singkatan dari ‘Wajib Sembahyang’, itu lho,” jelas Kiai Chalwani.
Maka kalau ada orang rajin nonton wayang kok tidak pernah shalat jelas tidak tahu pakemnya wayang. Cuman grudak-gruduk menghabiskan uang saja.
“Maka wayang kulit ini melambangkan aqidah ahlussunnah wal jamaah,” tegas Kiai Chalwani
Pengasuh Pondok Pesantren An Nawawi itu menjelaskan, ada gedebog/ batang pisang ibarat buminya, ada gebernya ibarat langitnya, ada lampu petromaknya ibarat mataharinya, ada kotaknya ibarat kuburannya, ada dalangnya ibarat pangerannya.
“Maka semalam suntuk tidak buang air orang dia berperan sebagai pangeran, kecuali kalau disalahi, ya apa tidak pak ini?,” gurau Kiai Chalwani.
Kiai Chalwani melanjutkan, ada yang tanya, Pak Kiai sindennya bagaimana?
“Yang ditanyakan kok sindennya, Sinden itu lambing sarusikuning dunyo maka pakemnya wayang asli sinden cantiknya kaya apa tidak boleh duduk di sebelah kanan dalang,” tegas Kiai Chalwani
“Demene badar ora payu wani manggon neng tengene dalang. Silahkan buka pewayangan betul,” pungkasnya. ***
