Awalan

Kisah Unik Pernikahan Kiai Abdul Karim Lirboyo, Jodoh Datang Lewat Mimpi


 Kiai Abdul Karim Lirboyo dikenal sosok ulama yang cinta ilmu sepanjang hayatnya, bahkan sampai lupa terkait jodohnya. 

selama 23 tahun mengaji kepada Syaikhona Kholil Bangkalan di pulau garam. Usianya bahkan sampai 40-an tahun. 

Fokus ngaji, akhirnya lupa menaksir perempuan. Tapi saat ada mimpi datang, jodoh akhirnya tak bisa ditolak.  

Dikutip dari buku 'Ngopi di Pesantren: Renungan Kisah Inspiratif Santri dan Kyai' karya Thom Afandi, dijelaskan kisah pernikahan Kiai Abdul Karim Lirboyo hadir dalam peristiwa yang unik dan dramatis. 

Dijelaskan, Kiai Abdul Karim tercatat melakukan pengembaraan ilmu berpuluh tahun.

Mulai dari Pesantren Trayang Bangsri Kertosono Nganjuk, Pesantren Sono Sidoarjo, Pesantren Kedungdoro, Surabaya, dan menimba ilmu ke Syaikhana Kholil Bangkalan.

Bahkan di pesantren terakhir, mondoknya cukup lama yakni selama 23 tahun.

Setelah dirasa cukup, Syaikhana Kholil berkata pada Kang Manab, nama Kiai Abdul Karim pada masa nyantri:

“Wes kang Manab, ngelmuku wes tak ke’ne kabeh, wes ra enek sing iso tak ke’ne,”

(Sudah Kang Manab, ilmuku sudah saya berikan semua, tidak ada lagi yang bisa saya sampaikan).

Secara implisit berarti sang guru menghendaki kepada murid untuk mencari ilmu di tempat lain.

Lalu Kang Manab menuju Jombang. Di Tebuireng, ada temannya yang sudah dikenal sebagai ulama yang alim hadist yaitu KH M Hasyim Asy’ari.

Mbah Manab selain ngangsu kaweruh, juga ikut membantu mengajar.

Suatu ketika Syaikhona Kholil didatangi temannya sewaktu di Ngelom Sepanjang. Saat beliau nyantri kepada Syaikh Bahauddin, yaitu Kiai Sholeh dari Bandar Kediri.

“Kang aku ngimpi, mambengi kene enek jago yo?” (Kang tadi malam aku bermimpi, tadi malam di sini ada ayam jago ya?) ucapnya.

“O. . . yo iki nang Tebuireng, nang gone Kang Hasyim” (Oh ya, itu di Tebuireng sekarang, di tempatnya Kang Hasyim), jawab Mbah Kholil.

Setelah itu, KH Sholeh Bandar Kediri menuju Tebuireng Jombang.

“Aku sowan karo Mbah Kholil golek mantu, jare mantuku nang kene!”

(Saya silaturahim kepada Mbah Kholil, mencari menantu. Katanya menantuku di sini), ucap Mbah Sholeh kepada Kiai Hasyim Asy’ari.

“O. . njeh” (O. . Iya), jawab Kiai Hasyim.

Beliau langsung menemui Kang Manab.

“Iki enek wong golek mantu, awakmu. Wes saiki tak ijabi”

(Ini ada orang mencari menantu. Sudah kamu sekarang saya ijab-i)

Di tempat itu juga Kiai Hasyim mengijabi Kang Manab. Sedangkang Kang Manab belum tahu menahu, apalagi kenal dengan calon pendamping hidupnya.

Setelah dibawa ke rumah mertua, calon istri beliau (Kang Manab) ialah Nyai Khodijah. Baru berusia 13 tahun, sedang Kang Manab sudah berusia 40-an tahun.

Namun, begitulah pernikahan yang berkah. Melahirkan nasab emas yakni generasi ilmuan dan ulama yang sekaligus mencetak puluhan ribu santri.***

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel